Site Map: Home > > Sejarah Desa

KRONOLOGI SEJARAH KERATON PLERET

PADA AWALNYA DAERAH Pleret Merupakan calon ibukota Mataram yang telah direncanakan oleh Sultan Agung, ketika Mataram masih berikota di Kerto selama ini mataram di perintah oleh sultan agung, beberpa fasilitas keratin pleret telah di bangun. Pembangunan Keraton ini dengan mengerahkan beberapa desa di bawah kekuasaan Mataram yang melakukan bedhol desa ke wilayah kerto. Mereka kemudian oleh Negara di perkerjakan sebagai pembuat bata untuk persiapan pembangunan bangunan-bangunan penting keratin kerto, serta pembangunan keratin pleret ( Yudodipojo, 1995:27). Berdasarkan Babad sangkala 1565 J (1643 M), salah satunya berupa pembangunan danau atau laut buatan dengan membeneung sungai opak sebelah timur  pleret, yang nantinya di segarayasa ( de graaf, 1986:114 ).

Setelah Sultan Agung wafat pada tahun 1646 M, tampuk kekuasaan kemudian di pegang oleh Sunan Amangkurat I ( 1646-1677 M) (Moedjanto, 2002:68-69). Berdasarkan serat babad Momana tahun 1570 J (1648 M) ibukota Mataram oleh Sunan Amangkurat I diperintahkan untuk dialihkan arikerto ke pleret. Sedangkan keratin kerto kemudian hanya difungsikan sebagai pesanggrahan keratin lama ( Yudodipojo, 1995:28). Perintah perpindahan ibukota darikerto ke pleret ini dapat di ketahui dalam Babad Tanah Jawi, Bahwa raja berkata :
“…serupane kawulangsun kabeh, padha nyithaka bata, ingsun bakal mingser teka ing kutha kerta, patlasane kangieng rama ingsun tan arsa ngenggoni. Ingsun bakal yasa kutha ing Plered….
“…semua rakyatku, kalian buatlah bata. Saya akan pindah dari kerta, karena saya tidak mau tinggal di bekas (kediaman) ayahanda. Saya akan membangun kota plered….

Berdasarkan keterangan babad tanah jawi di atas dapat diketahui, bahwa setelah Sunan Amangkurat I dinobatkan sebagai raja Mataram, beliau tidak ingin bertahta di kerto bekas kediaman ayahanda ( sultan Agung). Beliau kemudian memerintahkan kepada rakyatnya untuk mencetak bata guna membangun istana baru di pleret, dimana pleret sebelumnya memang telah direncanakan sebagai bakal calon Mataram yang baru. Semenjak itu pembangunan istana oleh sunan Amangkurat ( terus dilakukan dan berdasarkan informasi keraton di gambarkan sangat megah. Ini dapat diketahui berdasarkan cacatan Lons, ketika mengunjungi Pleret th 1733 menggambarkan bahwa keraton Pleret dibuat batu dan lebih besar daripada Kraton Kartasura.

Babad ing sankala mencatat perpindahan sunan ke kraton yang baru ( pleret) terjadi padda tahun 1569 J (1647 M) Kraton yan baru ini dinamakan puraarya(Ras, 1992:337). Setelah itu sunan amangkurat I memerintahka untuk membangun pagar keliling. Pagar yang di buat dari bata dan berpuncak putih diselesaikan pembuatannya dalam waktu 2 bulan. Menurut van goens. Luas kraton pleret di kelilingi tembok sekitar 600 tombak atau 2.256 m. 2 tahun kemudian didirikanlah masjid pleret dan setahun sitinggil mulai di bangun. 5 tahun kemudian bangsal prabayasa dibangun, tepatnya pada tahun 1577 J.

Sumber-sumber belanda menyebutkan bahwa pleret, terutama keratonnya dikelilingi oleh batang-batang air. Pembangunan keraton pleret berjalan terus setidaknya sampai tahun 1668 M, sewaktu makam tatu malang di gunung kelir selesai dibuat. Ratu malang adalah salah seorang istri sunan amankurat I yang di peroleh dengan jalan merampas dan membunuh suami ratu malang yakni Ki dalem. Hal ini mengingat sunan amangkurat I merupakan raja tiran yang tidak segan-segan membunuh orang yang menghalangi kehendaknya.

Akhir masa kraton pleret sebagai pusat pemerintahan Mataram islam ditandai dengan serbuan pasukan Trunajaya, yang mengakibatkan Amangkurat I meninggalkan kota itu pada tanggal 28 juni 1677 M, kemudian di sebutkan bahwa pangeran puger (salah seorang putra Amangkurat I ) kembali ke pleret dan berhasil merebut kerajaan ari tangan Trunajaya. Ia tinggal di pleret sampai tahun 1644 J dan kemudian pindah ke kertasura. Setelah itu, keraton pleret tidak berfungsi lagi sebagai benteng alam perang diponegoro.

Selanjutnya pada masa colonial Belanda, bekas-bekas bangunan di pleret di ambil batanya untuk membangun pabrik gula kedaton pleret. Walaupun demikian, ketika Rouffaer mengunjungi tempat itu pada tahun 1889, ia masih dapat membuat peta sketsa kraton berdasarkan peninggalan2 yang masih ada. Ia memperkirakan bahwa tembok istana dulu tingginya antara 5-6m, tebalnya 1.5m, dan terbuat dari bata. Bagian atasnya di beri penutup berbentuk segitiga yang terbuat dari balok-balok batu putih.

Saat ini situs keraton pleret hanya tinggal bekasnya saja dan sudah sedikit sekali komponen bangunan yang masih dapat di lacak. Hal ini mengingat main paddatnya pemukiman penduduk di wilayah pleret. Selain itu, sebagain kawasan cagar budaya pleret banyak dimamfaatkan sebagai lahan industry bata, yang seringkali menemukan sisa-sisa struktur bangunan keraton pleret. Dan tidak jarang sisa bata struktur bangunan tersebut diambil masyarakat sekitar untuk diubat semen merah. Dengna adanya ini perlu dilakukan penyelamatan dan pendokumentasian sedini mungkin untuk menyelamatkan kawasan cagar budaya pleret.

Kompleks Balai Desa Pleret, Kecamatan Pleret, Kabupaten Bantul.
didukung oleh :